Oh, Indramayu (Part I)

Di suatu pagi yg dingin, tapi tak sedingin air yg saya gunakan untuk berwudhu. Tidak pula sedingin hati saya yang pagi itu sedang bimbang (bukan bambang karena tidak nyambung dan kalo disebut takut orangnya marah). Saya terbangun dari tidur panjang selama 350 tahun di dalam sebuah peti, dikelilingi oleh kurcaci-kurcaci yg berjumlah 7 ekor, terbangun oleh ciuman seorang pangeran tampan dari negeri nun jauh disana. Ya gak lah! emangnya saya homo apa? apa kamu liat-liat kayak kamu ganteng aja? sana mendingan bersihin tu septitank rumah gue?! (LOH?! maklum baru bangun tidur nyawa gue belum balik 100%). Liat kiri-kanan kondisi kamar yang amburadul (kayak candi Borobudur waktu ditemuin pertama kali) seperti biasanya. Tidak lupa saya berdoa, "Alhamdulillahilladzi ahyana ba'da ma amatana wa ilaihinnusyuur" (do'a bangun tidur, dari Al-Hadist) karena masih diberikan kesempatan untuk menghirup apeknya “aroma” kamar saya pagi ini. Akhirnya sayapun menyegerakan sholat subuh, lalu berdoa, memohon petunjuk dan keselamatan serta kebarokahan karena pagi ini saya akan berangkat survey ke salah satu universitas swasta di Indramayu.



Buat apa jauh-jauh di Indramayu? Mendingan ke Sabang, atau Merauke aja (justru jauh banget goblok!). Katanya sih, jurusan perminyakan di universitas itu, (maaf, akademi maksud saya) berkualitas & lulusannya banyak yang diterima di perusahaan minyak asing. Entah itu asing disini maksudnya terisolasi dari dunia luar, jauh berada di pedalaman hutan dimana semua penduduk aslinya kanibal dan belum mengenal aksara. Atau dari luar negeri, atau perusahaan minyak dari galaksi lain, yang notabene pegawainya alien. Entahlah, tidak usah dipikirkan yang penting kata orang jawa bilang, "iso nggolek duwek" (bisa nyari uang-red).


Akhirnya pukul 05.00 WIB (Waktu Indonesianya Barat) saya berangkat menuju terminal cicaheum, diantar orang tua saya. untuk mencari bus yang bertolak menuju Indramayu. Tentu saja tidak hanya dicari tapi juga ditumpangi. Jadi saya pergi buat nebeng di bus orang lain. Pergi buat ngerepotin orang lain. Padahal orang tua saya sudah susah-susah ngerawat saya dari orok, dari yang tadinya gak ngerti yang namanya perempuan itu cantik, dan gak ngerti sama sekali kalo mau buang hajat itu mesti di WC. Semua itu orang tua saya yang latih biar saya jadi "orang", eh ini malah jadi ngerepotin orang. "Sungguh durhaka dirimu nak !" kata bapak saya. Petir menggelegar di seluruh dunia. Membuat Mount Everest jadi belah dua. Gempa 10 SR melanda seluruh dunia dan terjadi tsunami dimana-mana. Lalu saya dikutuk jadi tahi lalatnya patung liberty dan menjadi legenda atau keajaiban dunia ke-8. Oh tentu saja tidak karena itu cuma khayalan saya. Akhirnya saya naik bis. Yaaa tentu saja bayar (baca: gak cuma nebeng) kalau tidak mau pulang tinggal nama dan sudah terpampang di yasin.




foto waktu dianter ke terminal


Tadinya mau naik DAMRI yang singkatanya : "Dempet-dempetan, Apek, Murah tapi berdiRI". Maunya sih naik yang langsung ke Indramayu biar cepet. Ini damrinya beda. Bukan damri dalam kota. Katanya sih PATAS, cePAT terbatAS. Jadi kecepatannya terbatas. Seperti biasa, pelan-pelan asal selamat. Bukan selamatnya asal-asalan. Atau malah jadi selamat asal cepat. Tapi enaklaah, lumayan agak sepet-sepet gimanaa gitu (lu kira manisan salak?). Tapi entah nasib atau emang lagi sial. Emang mungkin saya sial terus? hanya saya dan Allah yang mengetahui. Saya gak dapet Damrinya. Jadi terpaksa naik bis lain yang ke arah Cirebon dulu. Berangkaat gan!.


Di perjalanan, saya duduk paling depan. Di dekat tempat kondektur biasa berdiri. Mungkin sudah dilatih dari kecil oleh orang tuanya jadi dia pun tahan berlama-lama diam disitu (apaan?!). Lalu si kondektur bis yang bisa dibilang debt collector itu (soalnya dia cuma bisa nagih uang doang. bikin kesel aja sih!) menagih uang untuk tiket bis (tuh kan bener?). Saya keluarin dompet saya. Saya pandangin uang 50rb-an yg cuma ada 6 lembar di dompet saya. Cuma ada 6 kawan?!. Dan di dompet saya itu ga ada apa-apa lagi selain kertas-kertas bon belanjaan atau kertas potongan harga tempat fitness. Sisanya KTP yang udah kadaluarsa dan alamatnya fiktif, dan foto-foto saya yg berharga karena kalo ilang & tersebar di masyarakat, saya bisa ditangkep polisi kayak teman dekat saya, si Nazril Ilham itu. Saya terharu, karena tidak kuasa melepas kepergian "sahabat" tercinta. Air mata pun jatuh dipipi. Sang kondektur merasa iba dan menghapus air mata dengan sapu tangan miliknya yang berbau khas keringat dari ketek sang kondektur sambil berlutut didepan saya. Dia mengelap pipi saya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Membuat hati ini bergejolak bagai sayur asem buatan mama kalo udah mateng. Lalu dia memanggil saya. Lama-lama panggilannya terdengar makin keras. Ohh... rupanya tadi cuma imajinasi liar saya saja. Saya lalu memberikan selembar uang 50rb tadi dan dengan gobloknya dia memberi saya tiga lembar uang 5rb, padahal dia udah saya kasih 1 lembar (itu kan kembalian dasar goblok nih penulisnya !).


Oh iya, sebelum bisnya berangkat, saya tanya2 dulu sama supirnya. Kalo ke indramayu dari cirebon naik apa. Si supir bilang, "kalo mau ke indramayu, jalan kaki aja ikutin jalan ini, sampe nemu sungai 7 warna. Nanti ketemu sama patung semar lagi nyunat anaknya, kamu tanya sama dia kenapa presiden amerika gak pernah sholat". Dasar goblok! bener-bener segoblok-gobloknya orang goblok yang goblok orang kalo ada yang jawab gini!. Ya tentulah dia kasih tau saya. Karena saya bayar di bisnya dia. Mungkin kalo nggak bayar dia udah culik saya, ngiket saya sekekenceng-kencengnya terus saya dikulitin dan dijual di pasar gelap buat dijadiin hiasan tembok.


Ditemani oleh keripik kentang, roti dan susu. Perjalanan tampak melehakan ditambah lagu-lagu jadul, mungkin tahun 70-an. Bukan 1970 tapi mungkin 1870 (itu maah jaman penjajahan keneh gelo sia teh!). Pertama saya kelaparan dijalan. Ditambah lagu-lagu melankolis yang keluar dari speaker bis ini, menambah suasana haru perjalanan saya kali ini.


Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, bis yg saya tebengin ini nyampe di cirebon. Dan saya diberi petunjuk oleh yang maha tau (supir bis tadi, karena dia tau jalan ke indramayu), bahwa saya harus naik mobil elf (baca: elp) dari sini untuk sampai ke cirebon. Dengan penuh tangis haru (lagi-lagi bacot nih!), seisi bis melambaikan tangan tanda perpisahan pada saya yang luar biasa keren melebihi justin bieber ini. Saya yang selalu di elu-elukan oleh fans berat saya sampai-sampai velove vexia pun kelenger walaupun cuma liat saya dari jarak 10 km. Saya pun tak kuasa menahan tangis, meninggalkan mereka semua di bis itu. Meninggalkan mereka sendiri tanpa kehadiran orang keren seperti saya ini. Oh, sungguh saya tidak tega, tapi waktu tetap berjalan. Maka sayapun memalingkan muka dan segera mencari mobil elf yang akan saya tumpangi kemudian.
(mungkin saat saya menulis ini, penumpang yang bareng saya waktu itu lagi syukuran dan melakukan ritual pembersihan diri karena saya gak akan pernah ketemu lagi sama mereka. Mungkin mereka lagi masak kepala kerbau yang lagi bunting 7 bulan terus dilempar kelaut. Sesajen buat buang sial agar saya tidak pernah ketemu mereka lagi)


Udah gitu, saya ngeliat seseorang yg turun dari mobil elf manggil saya, "mas, mau kemana?". Saya jawab, "ngapain situ tanya-tanya?". Dia jawab lagi, "cieee, marah nih?" sambil mencolek pipi saya. Jantung pun berdegup dag-dig-dug- dhuaar! daia! (iklan detergen). OH!, tiba-tiba seorang pria tampan dan berotot, berjenggot tipis menyelamatkan saya dari orang itu. Menghajarnya tepat diantara dua selangkangan nya. orang itu akhirnya pergi dengan luka dihati dan kemaluanya tentu saja. Lalu pria tampan itu bertanya, "apa kamu terluka?". Saya jawab dengan malu, "enggak apa-apa kok, makasih ya mas" sambil tersenyum padanya. LOOOH??!! . Memangnya saya homo? najis tralala saya jadi homo. Mendingan juga saya ganti kelamin sekalian (keneh-keneh kehed sia!). Jelas-jelas wong saya ini laki-laki, meskipun sesekali berubah wujud menjadi gadis cantik saat bulan purnama di malam sabtu kliwon (LOH?! {lagi})


Kembali ke cerita awal. Akhirnya saya dapat mobil elf yg berangkat menuju indramayu, berkat bujuk rayuan gombal dari sang kondektur mobil elf ini. Diperjalanan, saya duduk di sebelah bapak-bapak tua, mungkin usianya 60 taunan. Badanya sudah agak bungkuk. Tapi dia masih merokok. Padahal dia sendiri sudah tua dan batuk-batuk. Apalagi dia sedang pilek. Kenapa saya tau dia pilek?. Bukan berarti saya habis ngelapin ingusnya, atau saya ini cucunya yg tinggal 1 atap dengan bapak itu, tapi dia pakai vicks inhaler. Yang katanya lumayan enak dipake kalo lagi meler. Dan itu bukan alat yg bikin kita teler. Dan juga gak bisa bikin kita ngiler. Saya agak kesal kenapa dengan umur setua itu ditambah sedang pilek masih saja membiarkan racun masuk ke tubuhnya yang sudah tinggal menunggu dijemput izrail itu. Ditambah lagi yang bikin saya kesel itu supirnya. Udah suara mobilnya kayak rantai karatan yang digesek pake gergaji, ditambah pula ngebutnya, wuzzz wuzzz wuzzzz lah pokoknya. Mungkin dia punya nyawa 9 atau mungkin juga dia sengaja bawa mobilnya kenceng-kenceng karena dia grogi, gemeteran bawa orang keren seperti saya di mobilnya.


To be continued in Part II . . .

7 komentar:

Dimi page mengatakan...

velove vexia kelenger ningali mnh di radius 10km
pertanyaan saya adalah emang kaciri???

Anonim mengatakan...

lanjutkan brad!

Muhammad Rizky Fitriawan mengatakan...

dimi: ya begitulah kehebatan kekuatan kegantengan yang lar biasa dari saya. semacam bakat terpendam gituu lah yang ga sngaja ditemuin pas lagi ngubek septictank.

Anonim: ieu teh saha bos?

iyhaaa mengatakan...

keren dan saya ngakak wkwkwk

Anonim mengatakan...

MAHO

iqbalganteng mengatakan...

kok jadi blog tentang pengalaman hidup gini ya???
tapi bagus lah, lanjutkan bos!!!

BARON mengatakan...

::
mampir balik !!

Posting Komentar